DOCUROOM PROJECT

DOCUROOM PROJECT

Silahkan klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang DOCUROOM PROJECT

satu tahun komunitassarueh

satu tahun komunitassarueh

Padang, 18 agustus 2009

Tidak  banyak orang yang tau kapan Hari Remaja Internasional, begitu juga dengan saya yang cukup kaget saat sekolah kami SMAN 3 Padangpanjang mendapat undangan dari Komunitas Sarueh. Undangan tersebut adalah program refleksi untuk memperingati Hari Remaja Internasional dengan mengadakan Bioskop Jalan Remaja 1208 bertemakan Sekolah Kehidupanku yang diputar serentak di beberapa kota yang ada di Indonesia pada tanggal 12 Agustus. Sebagai seorang remaja saya sedikit merasa malu pada diri sendiri, karena juga tidak tahu kapan hari remaja dan bahkan saya tidak pernah sama sekali terfikirkan kalau hari remaja itu ada.

gerbang sman2 padang

gerbang sman2 padang

(more…)

1. Repetisi, simbolisme, kesamaan (similarity)

Time Code : 03:41:19 – 03:49:23

Mother (1926) karya Vsevolod Illarionovich Pudovkin pada scene 15, seorang ibu yang duduk di sebelah mayat suaminya yang terbaring di atas tempat tidur dan kemudian datang anaknya, duduk di atas kursi dekat tangga yang secara identifikasi tempat, mereka saling berhadapan.

Antara shot pertama  dengan wajah ibu dan shot suaminya yang sedang terbaring tidur terdapat shot air  yang jatuh ke tempayan dilakukan secara repetisi dan kesamaan shot yang dihadirkan.  Sedangkan air  yang jatuh ke tempayan menurut pemahaman saya, Pudovkin mencoba memberikan symbol bahwa seorang ibu tampak sedih atas kematian suaminya tanpa harus ibu disuruh untuk menangis dan mengeluarkan kata-kata.  Pada shot berikutnya si anak datang, secara visual kita dapat melihat si ibu memperlihatkan kesedihanya dan mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal.

2. Simbol , kontras

Time Code : 35:10:09 – 35:74:14

Gaya yang dilakukan oleh dokumentaris Rusia Dziga Vertov dalam filmnya “Man With The Movie Camera” (1929), dimana film tersebut merupakan sebuah refleksi (reflexive documentary) dari proses pembuatan (shooting) film tersebut. Sebenarnya Vertov hanya bertujuan merefleksikan prinsip teorinya mengenai apa itu film kebenaran (Kino Pravda=Film Truth), dimana semua adegan harus sesuai apa adanya. Karena dari symbol yang dihadirkan sebuah shot lensa kamera yang digabungkan dengan mata manusia dengan melakukan teknik editing “sumper impose” Vertov menekankan bahwa kamera sebagai mata film (film eye) adalah mata manusia yang merekam realita tiap adegan yang disusun kembali berdasarkan pecahan shot yang dibuat. Gaya refleksi lebih jauh daripada interaktif karena dengan memperilhatkan shot proses editing focus utamanya adalah menuturkan proses pembuatan shooting sampai pasca ketimbang menampilkan keberadaan subjek (karakter) dalam film.

Pada adegan di atas, menurut pemahaman saya Vertov juga memberikan kontras editing dengan memperlihatkan  dua shot yang berbeda pada satu scene yaitu seorang wanita yang menjahit dengan cara manual (menggunakan benang, jarum yang dirajut dengan tangannya) dan seorang wanita yang masih pada aktifitas yang sama tapi sudah menggunakan mesin jahit.

d1v12

Padang Panjang, 17 Juli 2009

Setapak Melangkah dengan Sarueh

oleh :  Gusnita Linda

Setapak Melangkah dengan Sarueh

Setapak Melangkah dengan Sarueh

Tulisan ini pertama kali dibuat oleh Gusnita Linda tiga bulan setelah Sarueh berdiri, dimana pada saat itu teman-teman sedang melewati proses dari berbagai kritikan agar tetap bertahan untuk membangun Sarueh bersama-sama. Selama beberapa bulan tulisan ini dipajang di mading Sarueh agar dapat dibaca oleh semua teman-teman dan sebagai sebuah motivasi untuk dapat melangkah terus dalam satu payung kecil yang akan menjadi besar di suatu saat nanti.

Kutipan tulisan Gusnita Linda pada pragraf ke-3 :

“Suatu kelompok akan “besar” apabila individu-individu yang terdapat di dalamnya juga “besar”. Artinya, tiap individu harus mempunyai mentalitas yang “besar” pula. Mentalitas untuk berani mencoba dan berbuat, mentalitas untuk dikritik, mentalitas untuk dicaci maki, dihina, dan mentalitas untuk survive terhadap badai apapun. Sehingga nantinya akan mampu untuk berdiri di atas kaki sendiri, karena bintang akan berkilauan begitu langit gelap gulita dan mentari tiada lagi. Begitu juga dengan orang “besar”, masalah yang berat, cobaan yang dahsyatlah yang akan membuatnya bersinar dan menerangi sekitarnya”.

d1v12

Padang Panjang

workshop Go To Festival

workshop Go To Festival

(more…)

Di sela program akumassa Padang Panjang, Komunitas Sarueh dan Forum Lenteng Jakarta mengadakan pemutaran film video di SMAN 1 Padang Panjang dan beberapa dari siswa SMAN 3 Padang Panjang, Annisa M Rahmi dan Drinca Radisic bertamu ke Sekretariat Sarueh yang berlokasi di Jalan Bahder Johan No. 30 Kecamatan Guguk Malintang Padang Panjang.

workshop Dokumenter SMAN 3 Padang Panjang

workshop Dokumenter SMAN 3 Padang Panjang

(more…)

Padangpanjang, 29 mei 2009

29 Januari

Hari ini kita rame-rame jalan untuk mencari tanda-tanda bingkaian yang telah disepakati, pak Kos dan Otty jalan kestasiun kereta api untuk mencari informasi mak itam. Kelompok lainnya yang terdiri dari Kiki, Rudi, Pia, Ull, Ipunk, Yopi, Fandi, Capaik dan lain-lain meyebar dikawasan bukit tui.

30 Januari

Data yang telah kita peroleh kemarin, hari ini mulai dilempar keforum. Setiap orang mulai bergantian menceritakan informasi-informasi apa aja yang telah didapat . Siang harinya di saat Pia lagi sibuk memasak dan yang lain lagi sibuk membuat bingkaian-bingkaian yang sesuai dengan informasi.

(more…)

Padangpanjang, 30 Februari 2009

Karya video “akumassa” Padangpanjang adalah hasil dari workshop komunitas Sarueh dengan Forum Lenteng sejak 24 januari 2009 sampai massa itu tetap hidup. Workshop “akumassa” di Padangpanjang ini merupakan persinggahan Forum Lenteng ketiga setelah dua kota sebelumnya, yaitu Lebak dan Cirebon. Workshop ”akumassa” memfokuskan kepada pemberdayaan penggunaan medium audio visual seperti video dan film sebagai perekaman/ pendokumentasian sejarah sosial dan ekspresi. Dan juga sebagai media alternatif yang dapat digunakan sebagai media advokasi di masyarakat oleh komunitas-komunitas lokal.

konvensi akumassa

konvensi akumassa

(more…)

Jakarta, 9 Mei 2009

Pada tanggal 4 s.d. 9 Mei 2009, Forum Lenteng Jakarta melangsungkan Workshop Media Online untuk pengembangan program akumassa dalam bentuk tulisan, foto, dan video. Workshop tersebut diikuti oleh 4 komunitas dampingan yang sudah menjadi bagian tubuh akumassa ; Komunitas Sarueh (Padangpanjang), Komunitas Gardu Unik (Cirebon), Saidjah Forum (Lebak), dan Komka (Lenteng Agung). Atas kesepakatan bersama Komunitas Sarueh mengirimkan 2 orang anggotanya, yaitu Gusnita Linda dan David Darmadi untuk mengikuti workshop tersebut.  Selain pengembangan dan pemetaan akumassa di setiap daerah komunitas dampingan, workshop ini  juga bertujuan untuk pemberdayaan bagaimana dalam mengembangkan jaringan komunitas di Indonesia.

Pemateri Forum Lenteng, Jakarta

  • Hafiz
  • Ugen T Moetidjo
  • Otty Widasari
  • Andang Kelana
  • Mahardika Yudha
  • Adel Pasha
  • Riezky Andhika Pradana

(more…)

Next Page »